SIMANGARU 28 SSB BSF IAIN Bone Dimulai, 25 Calon Anggota Siap Ditempa Selama Sebulan
https://kampuskita.timurkota.com/2026/10/simangaru-28-ssb-bsf-iain-bone-dimulai.html
![]() |
| Seleksi Penerimaan Anggota Baru (SIMANGARU) ke-28 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sanggar Seni Budaya Banrigau Sultanul Fatimah (SSB BSF) IAIN Bone kembali digelar. |
KAMPUSKITA.TIMURKOTA.COM, BONE— Seleksi Penerimaan Anggota Baru (SIMANGARU) ke-28 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sanggar Seni Budaya Banrigau Sultanul Fatimah (SSB BSF) IAIN Bone kembali digelar. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal bagi 25 peserta untuk memulai perjalanan dalam mengenal lebih jauh seni, budaya, organisasi, sekaligus menggali potensi diri.
Sebanyak 25 peserta dengan latar belakang, karakter, minat, dan bakat seni yang beragam mengikuti rangkaian awal SIMANGARU 28. Mereka datang dengan membawa potensi masing-masing serta harapan untuk dapat berkembang dan menjadi bagian dari keluarga besar SSB BSF IAIN Bone.
Ketua Umum UKM SSB BSF IAIN Bone, **Abd. Salam Syam**, mengatakan SIMANGARU bukan sekadar kegiatan penerimaan anggota baru, melainkan menjadi pintu pertama bagi peserta untuk menjalani proses panjang dalam dunia seni dan kebudayaan.
Menurutnya, setiap peserta memiliki karakter dan potensi yang berbeda. Karena itu, proses pembinaan menjadi bagian penting untuk membantu mereka menemukan kemampuan sekaligus membangun karakter sebagai seorang pegiat seni.
"SIMANGARU bukan sekadar sebuah kegiatan penerimaan anggota. Ia adalah pintu pertama menuju sebuah perjalanan panjang dalam mengenal seni, budaya, organisasi, dan diri sendiri," ujar Abd. Salam Syam.
Tahapan pendidikan outdoor menjadi salah satu bagian awal yang harus dilalui oleh para calon anggota. Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk membangun ketahanan fisik, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan kebersamaan, solidaritas, kedisiplinan, serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan.
Dalam proses tersebut, peserta diharapkan memahami bahwa perjalanan dalam sebuah organisasi tidak selalu berlangsung mudah. Setiap tantangan yang dihadapi justru dapat menjadi pengalaman dan pembelajaran yang membentuk karakter.
"Di sana, mereka tidak hanya belajar tentang ketahanan dan kebersamaan, tetapi juga belajar bahwa setiap proses memiliki tantangan, dan setiap tantangan selalu membawa pelajaran," katanya.
Namun, perjalanan 25 calon anggota SIMANGARU 28 tidak berhenti setelah mengikuti pendidikan outdoor. Mereka masih akan menjalani tahapan latihan dan pembinaan secara intensif selama kurang lebih satu bulan.
Selama proses tersebut, calon anggota akan mendapatkan berbagai materi yang berkaitan dengan **kesenian, kebudayaan, keorganisasian, kedisiplinan, serta pembentukan karakter**. Rangkaian pembinaan tersebut diharapkan dapat mempersiapkan peserta sebelum secara resmi menjadi bagian dari SSB BSF IAIN Bone.
Abd. Salam Syam menegaskan, menjadi anggota sanggar tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk tampil di atas panggung. Lebih dari itu, seorang pegiat seni dituntut memiliki kesadaran untuk menjaga nilai, menghargai proses, merawat kebudayaan, dan bertanggung jawab terhadap karya yang dihasilkan.
"Sebab menjadi anggota sanggar bukan hanya tentang mampu tampil di atas panggung. Menjadi pegiat seni adalah tentang kesanggupan menjaga nilai, menghargai proses, merawat kebudayaan, dan bertanggung jawab terhadap karya yang dilahirkan," tegasnya.
Ia berharap seluruh tahapan SIMANGARU 28 dapat menjadi proses pembelajaran yang memberikan pengalaman berharga bagi seluruh peserta. Menurutnya, proses pembinaan yang dijalani calon anggota merupakan bagian penting sebelum mereka menerima status sebagai anggota baru.
Rangkaian perjalanan tersebut nantinya akan bermuara pada **inaugurasi dan pengukuhan sebagai anggota baru SSB BSF IAIN Bone**. Momentum tersebut menjadi penanda bahwa para peserta telah menyelesaikan seluruh tahapan yang ditetapkan dan siap menjalankan peran sebagai bagian dari keluarga besar sanggar.
"Kami berharap, ketika hari pengukuhan itu tiba, mereka tidak hanya membawa predikat sebagai anggota baru, tetapi juga membawa pengalaman, keberanian, kedisiplinan, persaudaraan, dan kesadaran bahwa mereka kini menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah lembaga yang memiliki tanggung jawab untuk merawat seni dan budaya agar tetap hidup dari generasi ke generasi," ungkapnya.
Kepada 25 calon anggota SIMANGARU 28, Abd. Salam Syam berpesan agar tidak takut menjalani setiap tahapan yang telah disiapkan. Ia menilai proses pembinaan justru menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengenali kemampuan yang mungkin selama ini belum mereka sadari.
"Jangan takut pada proses. Sebab proseslah yang akan memperkenalkan kalian kepada kemampuan yang selama ini mungkin belum kalian kenali," pesannya.
Ia juga mengingatkan para calon anggota agar tidak terburu-buru mengejar panggung sebelum memiliki kesiapan dan kemampuan yang cukup. Menurutnya, proses menempa diri merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang seniman.
"Jangan terburu-buru mengejar panggung. Tempa diri kalian terlebih dahulu sebelum menuntut dunia untuk melihat karya kalian," ujarnya.
Menurutnya, ketika nantinya resmi menjadi anggota SSB BSF IAIN Bone, para peserta tidak hanya membawa nama organisasi. Mereka juga akan membawa tanggung jawab untuk berkarya, menjaga kebudayaan, serta meneruskan semangat kesenian kepada generasi berikutnya.
"Karena kelak, ketika kalian berdiri sebagai anggota SSB BSF, yang kalian bawa bukan hanya nama organisasi, tetapi juga amanah untuk berkarya, menjaga kebudayaan, dan meneruskan api kesenian kepada generasi berikutnya," tuturnya.
Ia pun mengajak seluruh peserta SIMANGARU 28 untuk menjadikan proses yang mereka jalani sebagai ruang belajar sekaligus ruang bertumbuh.
"Selamat menempuh perjalanan, SIMANGARU 28. Tempa diri. Tumbuhkan karya. Rawat budaya. Karena seni akan terus hidup selama ada manusia yang bersedia menjaganya," pungkas Abd. Salam Syam.
Dengan dimulainya SIMANGARU 28, sebanyak 25 calon anggota kini memasuki perjalanan baru sebagai generasi penerus SSB BSF IAIN Bone. Mereka diharapkan tidak hanya berkembang dari sisi kemampuan seni, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian terhadap kebudayaan, serta kemampuan berorganisasi yang dapat menjadi bekal dalam kehidupan akademik maupun sosial. (*)
