Mahasiswa KKN Posko 81 IAIN Bone Hadirkan Inovasi BOJARI, Ubah Bonggol Jagung Menjadi Briket Bernilai Ekonomi di Binuang

Mahasiswa bersama Pemdes di Desa Binuang, Kecamatan Libureng (Foto: Dok. Istimewa)

Semangat mendorong pemanfaatan potensi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat diwujudkan oleh Mahasiswa KKN Posko 81 IAIN Bone melalui program inovasi BOJARI (Bonggol Jagung Bernilai, Desa Sejahtera) di Desa Binuang. 

Kegiatan ini berfokus pada edukasi dan pengenalan pemanfaatan limbah pertanian, khususnya bonggol jagung, menjadi briket sebagai sumber energi alternatif sekaligus peluang usaha bagi masyarakat desa.

Program BOJARI hadir sebagai respons terhadap kondisi limbah jagung yang selama ini masih sering dibiarkan menumpuk atau dibakar begitu saja setelah masa panen. 

Padahal, bonggol jagung memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif yang bernilai guna dan bernilai ekonomi. 

Melalui pengolahan yang tepat, limbah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai dapat diubah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan energi rumah tangga maupun memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk usaha masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Posko 81 memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai potensi bonggol jagung sebagai bahan baku briket. 

Masyarakat diperkenalkan pada tahapan pengolahan mulai dari pengeringan limbah jagung, proses pengarangan, penghalusan dan penyaringan arang, pencampuran dengan perekat alami berupa tepung tapioka, hingga proses pencetakan menjadi briket. 

Tahapan tersebut diperkenalkan secara sederhana agar dapat dipahami dan nantinya diterapkan secara mandiri oleh masyarakat.

Selain memperkenalkan proses pembuatannya, mahasiswa juga menjelaskan berbagai potensi yang dapat diperoleh dari pemanfaatan briket bonggol jagung. 

Briket merupakan bahan bakar padat terkompresi dari arang biomassa yang dapat menghasilkan pembakaran lebih stabil dan tahan lama. 

Pemanfaatan limbah tersebut juga dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi pembakaran limbah secara terbuka serta menjaga kebersihan lingkungan desa.

Program BOJARI tidak hanya diarahkan pada aspek lingkungan, tetapi juga pada pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat. 

Melalui pengolahan limbah menjadi produk bernilai jual, bonggol jagung yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat. 

Konsep tersebut sejalan dengan gagasan ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah hasil pertanian menjadi produk yang dapat digunakan dan dipasarkan kembali sehingga nilai ekonominya tetap berputar di lingkungan desa.

Dalam penerapannya, usaha briket bonggol jagung juga memiliki peluang untuk dimulai dalam skala kecil. 

Peralatan yang digunakan relatif sederhana dan dapat memanfaatkan bahan maupun peralatan yang mudah diperoleh, seperti drum bekas, alat penumbuk, dan cetakan sederhana. 

Dengan demikian, masyarakat dapat memulai pengolahan dari skala rumah tangga sebelum dikembangkan menjadi usaha yang lebih besar.

Antusiasme masyarakat Desa Binuang terhadap kegiatan ini pun mendapat respons yang sangat positif. Masyarakat menyampaikan apresiasi atas hadirnya program BOJARI karena memberikan pengetahuan baru mengenai cara memanfaatkan limbah bonggol jagung yang selama ini belum dimaksimalkan. 

Masyarakat juga menunjukkan ketertarikan untuk belajar secara langsung mengenai proses pembuatan briket dan berharap kegiatan pelatihan tersebut dapat dilanjutkan secara berkelanjutan, sehingga mereka tidak hanya mengetahui konsepnya, tetapi juga mampu memproduksi briket secara mandiri.

Salah seorang masyarakat menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru bahwa limbah pertanian yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. 

Ketertarikan masyarakat untuk mendapatkan pendampingan lanjutan menjadi salah satu bentuk respons positif terhadap inovasi yang diperkenalkan oleh mahasiswa KKN.

Melalui program BOJARI, Mahasiswa KKN Posko 81 IAIN Bone berupaya membangun kesadaran masyarakat bahwa potensi desa tidak hanya berasal dari hasil pertanian utama, tetapi juga dari limbah yang dihasilkan setelah proses panen. 

Bonggol jagung yang sebelumnya hanya menjadi sisa pertanian dapat dikumpulkan, diolah, dan dikembangkan menjadi produk yang memiliki manfaat bagi kebutuhan energi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Ke depan, keberlanjutan program BOJARI diharapkan tidak berhenti pada kegiatan edukasi selama masa KKN. 

Antusiasme masyarakat untuk kembali mendapatkan pelatihan menjadi modal penting untuk mendorong terbentuknya kelompok masyarakat yang mampu mengolah limbah jagung secara mandiri. 

Jika dikembangkan secara konsisten, kegiatan tersebut berpotensi menjadi salah satu bentuk usaha berbasis potensi lokal yang melibatkan petani, pemuda, kelompok masyarakat, maupun pelaku UMKM di Desa Binuang.

Melalui semangat ”Bonggol Jagung Bernilai, Desa Sejahtera”, BOJARI menjadi langkah sederhana untuk mengubah cara pandang terhadap limbah pertanian. 

Apa yang sebelumnya dianggap sebagai sisa dan tidak bernilai dapat diolah menjadi sumber energi, peluang usaha, sekaligus bagian dari upaya menjaga lingkungan. 

Dengan kolaborasi dan pendampingan yang berkelanjutan, inovasi tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang serta turut mendukung terwujudnya masyarakat Desa Binuang yang lebih mandiri, produktif, dan sejahtera.

Related

Berita 7495617319507066455

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item